Sabtu, 11 Februari 2012

Islam Bukan Jahiliyah - Jahiliyah Bukan Islam


Asy-Syahid (insyaAllah) Sayyid Qutb rahimahullah menulis:
“Jadi Islam tidak berkepentingan untuk bermain-mata dan berdamai dengan berbagai pandangan jahiliyah yang ada di muka bumi ini. Tidak juga untuk berdamai-damai dengan situasi jahiliyah yang dibela di mana pun. Tidak dulu, tidak kini, dan juga di masa yang akan datang. Jahiliyah adalah jahiliyah. Jahiliyah merupakan penyimpangan dari prinsip penghambaan kepada Allah semata. Jahiliyah merupakan penyelewengan dari sosok kehidupan Ilahiah, dimana aturan, hukum, undang-undang, adat tradisi, nilai-nilai, standar nilai semuanya diambil dari sumber selain ajaran Allah. Sebaliknya Islam adalah Islam, dan fungsinya ialah mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan kepada keislaman.” (Petunjuk Jalan - hlm 188 – Penerbit Media Da’wah)
Paragraf di atas menegaskan pandangan jernih dan kokoh dari seorang Sayyid Qutb. Dan pandangannya inilah yang telah menyebabkan buku Ma’aalim Fit-Thariq (Petunjuk Jalan) menjadi sangat istimewa. Sebuah pandangan yang senantiasa menjadikan urusan aqidah sebagai barometer utama dalam menilai realitas. Pandangan yang menyibukkan diri dalam urusan fundamental kehidupan manusia, bukan urusan cabang dan ranting. Pandangan yang selaras dengan tugas dan fungsi diutusnya para Nabi dan Rasul Allah sepanjang zaman. Sebab mustahil Allah سبحانه و تعالى mengirim Nabi dan Rasul kecuali untuk menyampaikan pesan fundamental bagi kemaslahatan manusia. Para Nabi dan Rasul Allah memiliki pesan abadi yang seragam dari zaman ke zaman dari negeri ke negeri. Itulah pesan mengenai keharusan manusia menghambakan diri kepada Allah semata dan menjauhi para thaghut.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu".(QS An-Nahl 36)
Tidaklah dikatakan sah tauhid seorang yang mengaku muslim bilamana ia menghambakan dirinya kepada Allah namun enggan menjauhi bahkan mengingkari thaghut. Sebab bila seorang muslim masih mendekati apalagi beriman kepada thaghut berarti ia masih rela dengan realitas jahiliyah yang ada di sekitar dirinya. Sedangkan seorang muwahhid (ahli tauhid) sejati hanya menghendaki tegaknya sebuah sistem yang selaras dengan iman-tauhidnya. Itulah sistem Islam yang bersih dari kotoran-kotoran jahiliyah. Sebab Islam bukan jahiliyah dan jahiliyah bukan Islam. Untuk itulah Sayyid Qutb selanjutnya menulis:
“Jahiliyah ialah penyembahan, perbudakan dan penghambaan manusia kepada sesama manusia melalui menetapkan hukum oleh sebahagian mereka untuk diperlakukan atas sebagian yang lain menurut cara-cara yang tidak diperkenankan Allah, apa dan bagaimana pun modelnya. Islam ialah penyembahan dan penghambaan manusia kepada Allah semata-mata. Caranya ialah dengan menetapkan pandangan hidup, ideologi, hukum, pemerintahan, perundang-undangan, nilai-nilai serta standarnya yang semuanya didasarkan pada ajar an Allah pula, kemudian memerdekakan manusia dari perbudakan sesamanya.” (Petunjuk Jalan - hlm 188 – Penerbit Media Da’wah)
Datangnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم ialah untuk memastikan bahwa manusia meninggalkan sistem jahiliyah untuk menerima sistem Islam sepenuhnya. Sehingga Sayyid Qutb menulis: “Sebaliknya Islam adalah Islam, dan fungsinya ialah mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan kepada keislaman.” Hal ini sesuai dengan firman Allah سبحانه و تعالى sebagai berikut:
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ
إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS Ibrahim 1)
Jahiliyah merupakan kehidupan yang gelap. Sedangkan Islam adalah kehidupan dibawah naungan cahaya yang terang-benderang. Sebab hidup dengan Islam berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada cahaya langit dan bumi, yaitu Allah سبحانه و تعالى sebagai Pemimpin dan Pemberi Petunjuk hidup manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Dan inilah hakikat menghambakan diri kepada Allah semata, bahkan inilah pengertian yang Allah sebutkan berikut ini:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah 5)
Adapun jahiliyah, sebagaimana diterangkan oleh Sayyid Qutb: “Jahiliyah ialah penyembahan, perbudakan dan penghambaan manusia kepada sesama manusia melalui menetapkan hukum oleh sebahagian mereka untuk diperlakukan atas sebagian yang lain menurut cara-cara yang tidak diperkenankan Allah, apa dan bagaimana pun modelnya.”
Menarik untuk diperhatikan bahwa ada sebagian muslim –bahkan mereka yang dipandang sebagai tokoh Islam- seringkali dengan mudahnya menyamakan antara ideologi jahiliyah dengan ideologi Islam. Mereka sering menyelaraskan antara Nasionalisme dengan Islam, atau Demokrasi dengan Islam atau bahkan Pluralisme dengan Islam. Mereka mengatakan bahwa nasionalisme mengajarkan pentingnya “persatuan bangsa”. Berarti ini sama dengan Islam yang menganjurkan “persatuan ummat”. Mereka mengatakan bahwa demokrasi mengutamakan “musyawarah” dan menolak “kediktatoran”. Berarti ini sama dengan Islam yang menganjurkan “syuro” dan menentang “thaghut”. Mereka mengatakan bahwa pluralisme mengandung spirit “menghormati orang lain apapun latar belakang agama dan keyakinannya”. Ini berarti sama dengan ajaran Islam yang juga mengandung faham sepertiitu. Lalu apa kata Sayyid Qutb mengenai hal ini? Beliau menulis:
“Adakalanya beberapa bagian tertentu menyerupai beberapa bagian kehidupan masyarakat jahiliyah. Akan tetapi bagian-bagian yang nampak serupa dimaksud bukanlah jahiliyah, dan bukan pula berasal dari jahiliyah. Itu hanyalah hal yang bersifat kebetulan serupa secara lahiriahnya saja. Namun akarnya sepenuhnya berbeda. Islam, dengan bagian-bagiannya itu, ditumbuhkan dan dikembangkan oleh hikmah Ilahi, sedangkan jahiliyah dengan segenap cabang dan rantingnya ditumbuhkan oleh hawa nafsu manusia.” (Petunjuk Jalan - hlm 193 – Penerbit Media Da’wah)
Jadi, kalaupun ada hal-hal yang secara penampilan serupa antara suatu ideologi jahiliyah dengan ideologi Islam, namun sesungguhnya ia bertolak dari sumber yang samasekali berbeda dan bertolak belakang. Islam berasal dari ajaran Allah سبحانه و تعالى yang tentunya mulia dan agung, sedangkan jahiliyah tumbuh dari hawa nafsu manusia yang hina dan rendah. Islam merupakan bimbingan Allah سبحانه و تعالى agar manusia hidup selamat di dunia dan akhirat. Sedangkan jahiliyah merupakan buah karya manusia yang diarahkan oleh hawa nafsunya yang dimanipulasi oleh musuh Allah, yakni syetan. Kalaupun ada kebaikan yang dihasilkan dari suatu ajaran jahiliyah ia hanya memberi dampak sebatas di dunia belaka, sedangkan di akhirat kelak ia tidak akan memperoleh apapun kecuali api neraka. Sebab betapapun tampak canggihnya suatu ideologi jahiliyah, namun ia tidak dipandang Allah sebagai bentuk penghambaan diri kepadaNya, bahkan ia terputus dari petunjuk Allah. Ia sesat dan ingkar alias kufur terhadap ajaran Allah سبحانه و تعالى .
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ
وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS Huud 15-16)
Selanjutnya perlu difahami bahwa Islam tidak hadir ke muka bumi untuk mengakomodasi berbagai aspirasi (baca: hawa nafsu) masyarakat jahiliyah. Tetapi ia datang untuk mengganti sama sekali corak dan sistem hidup manusia agar semua seginya menjadi perwujudan pengabdiannya kepada Allah سبحانه و تعالى semata. Perhatikan tulisan Sayyid Qutb selanjutnya:
“Agama Islam datang tidak untuk hanyut ditelan arus hawa nafsu manusia yang mereka wujudkan dalam bentuk pandangan-pandangan, aturan-aturan, situasi-situasi, dan tradisi-tradisinya yang mendominasi ke hidupan di masa permulaan Islam dahulu maupun yang menggejala dewasa ini di belahan dunia Timur maupun Barat. Sebaliknya agama Islam itu datang untuk maksud menghapuskan dan mengikis kejahiliahan itu sampai ke akar-akarnya, lalu membangun kembali kehidup an manusia yang bercorak Islami secara khas. Islam da tang untuk menumbuhkan kehidupan Islami yang benar-benar tumbuh dan yang merupakan pancarannya serta terintegrasi dengannya secara kuat dan kokoh.” (Petunjuk Jalan - hlm 193 – Penerbit Media Da’wah)
Pemahaman akan perkara fundamental ini, kata Sayyid Qutb, hendaknya terbentuk dengan jelas dan kuat di dalam benak fikiran kaum muslimin, khususnya mereka yang berkecimpung di dalam kegiatan da’wah Islam. Sebab jika hal ini tidak hadir secara mantap di dalam akal dan hati para juru da’wah, niscaya mereka tidak akan sanggup memberikan pengarahan yang jelas kepada ummat yang mereka da’wahi. Bahkan para juru da’wah tersebut malah akan meberikan stempel dan legitimasi terhadap jahiliyah karena menyatakan bahwa ia selaras dengan Islam, padahal tidak. Dengan demikian, ummat akan terus berada di dalam kebingungan dan ketidak-sanggupan membedakan antara Islam dan jahiliyah. Bahkan mereka akan cenderung memandang sama saja antara kedua hal tersebut. Padahal dengan jelas Allah سبحانه و تعالى telah mewahyukan kepada Nabi Muhammadصلى الله عليه و سلم :
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ
مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (kebenaran) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, Al-Bathil (kebatilan), dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”(QS Al-Hajj 62)
فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا
بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?(QS Yunus 32)
Hanya ada satu kebenaran, itulah kebenaran Islam yang bersumber dari Allah سبحانه و تعالى . Selain daripada itu hanyalah jahiliyah yang merupakan kebatilan dan kesesatan. Sehingga pantas bila Sayyid Qutb dengan tegas selanjutnya menulis:
“Jahiliyah itu buruk, dulu maupun sekarang. Jenis dan bentuk keburukannya bisa berbeda-beda, tetapi akar dan sumbernya satu jua, yaitu hawa nafsu manusia yang bodoh lagi vested intrest, tidak mampu membebaskan diri dari kebodohan dan intrest itu. Kepentingan pribadi, kepentingan kelas, kepentingan bangsa atau suku sangat dipentingkan oleh orang-orang jahiliyah, bahkan keadilan, kebenaran, dan kebaikan mereka perkosa dan mereka korbankan demi kepentingan-kepentingan itu tadi. Maka diturunkan syari'at Islam, untuk membatalkan cara-cara tersebut, dan untuk mengundangkan syari'at yang bebas dari selubung nafsu manusia dan tidak dapat diperalat hanya untuk tercapainya kepentingan sekelompok orang saja.
Setelah mengerti perbedaan mendasar antara watak konsepsi Allah dengan watak konsepsi-konsepsi manusia, dapatlah ditegaskan mustahil keduanya dipersatukan menjadi satu sistem, mustahil mensintesakan keduanya dalam satu kondisi, dan mustahil pula mencampur-adukan sebagian yang satu dengan sebagian dari yang lainnya. Mengenai penegasan ini satu hal perlu diingat ialah bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa menyekutukan diri-Nya dengan sesuatu yang lain. Sejalan dengan itu, maka Allah tentu tidak memperkenankan serta tidak mengampuni dosa menyekutukan syari'at-Nya dengan syari'at lain. Sebab antara mensyirikkan Allah dengan mensyirikkan syari'at-Nya itu analog (sama) adanya.”(Petunjuk Jalan - hlm 194-195 – Penerbit Media Da’wah)
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ
شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
”Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui”. (AHMAD - 18781)

Ma’aalim fi Ath-Thoriq


Buku Petunjuk Jalan atau Ma’aalim fi Ath-Thoriq karya AsySyahid Sayyid Quthb rahimahullah merupakan buku yang mengantarkan sang penulis meraih kesyahidan di tiang gantungan rezim zalim penguasa Mesir Gamal Abdul Nasser. Beliau dihukum mati hukum gantung  pada tanggal 29 Agustus 1966. Mahkamah Revolusi merujuk pada buku-buku Sayyid Quthb terutama Ma’aalim fi Ath-Thoriq, yang mendasari pernyataan seruan revolusi terhadap seluruh kedaulatan yang tidak berdasarkan Syari’at Allah. Sedangkan ideologi yang diserukan oleh Nasser merupakan Nasionalisme-Sekuler.
Petunjuk Jalan memang buku yang membangkitkan semangat penegakkan kalimat Tauhid Pengesaan Allah, terutama dalam menegakkan Hakimiyyah Allah (Kedaulatan Allah). Prinsipnya, penulis mengajak setiap Muslim agar menegakkan kekuasaan Allah dan menolak kekuasaan siapapun selain Allah. Sebab bentuk ketaatan kepada siapapun dapat diartikan sebagai bentuk penghambaan. Sedangkan di antara misi utama datangnya Islam ialah seperti yang disabdakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallamsebagai berikut:
فإني أدعوكم إلى عبادة الله من عبادة العباد
“Sesungguhnya aku menyeru kalian kepada penghambaan Allah ta’aala semata dan meninggalkan penghambaan sesama hamba.” (HR Al-Baihaqi 2126)
ابتعثنا الله لنخرج الناس من عبادة العباد لعبادة الله وحده
“Kami (umat Islam) diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata.”
Dalam bab kedua bukunya, Sayyid Quthb memberinya judulThobi’ah Al-Manhaj Al-Qur’aaniy (Wujud Metode Al-Qur’an). Beliau membahas di dalamnya bentuk da’wah Rasulullahshollallahu ’alaih wa sallam semasa di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Qur’an Makki yang turun selama tigabelas tahun di Mekkah hanya membicarakan satu persoalan, yaitu persoalan aqidah, dengan titik perhatian kepada dua hal:ketuhanan (Al-Uluhiyah) dan penghambaan (Al-’Ubudiyah) serta hubungan antara keduanya.

Berdasarkan itu, maka Sayyid Quthb menjelaskan mengapa Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengawali da’wahnya dengan mengibarkan bendera aqidah Laa ilaaha illA-llahpadahal pilihan tersebut  mengundang perlawanan dan penganiayaan kaum musyrik Mekkah. Mereka sangat faham apa konsekuensi makna kalimat tersebut. Iniliah sebagian yang ditulis Sayyid Quthb mengomentari hal ini:
Dipandang dari segi  kenyataan yang ada dan menurutpandangan  otak manusia yang terselubung itu, ini bukanlah .merupakan jalan yang termudah ke hati bangsa Arab. Dalam bahasa mereka, mereka telah mengenal pengertian ilah (Tuhan) dan pengertian la ilaha illa-llah.      Mereka mengetahui bahwa uluhiyah (ketuhanan) itu berarti hakimiyah (penguasaan) yang tertinggi. Mereka mengerti bahwa mentauhidkan ketuhanan dan menyatukan Allah itu dengan tauhid berarti melucuti kekuasaan yang dipergunakan oleh pemuka (dukun) agama, ketua suku, pangeran dan penguasa, dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Kekuasaan atas hati nurani, kekuasaan atas   perasaan,   kekuasaan   atas   kenyataan   hidup,   kekuasaan atas  harta,   kekuasaan  atas  hukum dan  kekuasaan atas jiwa dan   raga.   Mereka  mengetahui  bahwa la ilaha  illa-llah   itu adalah  suatu revolusi terhadap kekuasaan bumi yang telah merampas cirikhas ketuhanan yang pertama : revolusi terhadap situasi  yang  timbul atas prinsip perampasan  ini; dan pemberontakan terhadap orang yang memerintah dengan hukum yang dibuatnya sendiri tanpa izin Tuhan. Orang Arab bukan tidak tahu karena mereka mengetahui bahasa mereka dengan baik  dan mengetahui petunjuk yang sesungguhnya dari seruan la ilaha illa-llah apa yang dimaksud oleh seruan ini tentang situasi, kepemimpinan dan kekuasaan mereka. Karena itu me­reka  telah  menyambut seruan ini atau   revolusi itu dengan sambutan yang amat keras  itu,  dan    mereka perangi dengan peperangan yang belum di kenal orang sebelumnya.


Jadi, menurut penulis, bila ingin mewujudkan kembali lahirnya generasi muslim seperti para sahabat kita harus menekankan kepada pembangunan aqidah secara konsisten. Dan kegiatan ini tidak bisa diharapkan berlangsung dalam waktu singkat. Ia membutuhkan kesabaran untuk menjalankannya dalam waktu yang panjang. Para sahabat saja, di bawah bimbingan pendidik (murabbi) terbaik yi Rasulullah, memerlukan tidak kurang dari 13 tahun. Jika kualitas kita separuh para sahabat, maka kira-kira diperlukan waktu 2 x 13 tahun = 26 tahun. Kalau kualitas kita hanya sepesepuluh para sahabat, maka dibutuhkan waktu kira-kira 10 x 13 tahun = 130 tahun..!!!

Yang pasti penulis memandang bahwa inilah jalan sekaligus metode satu-satunya penegakkan Islam untuk melahirkan generasi pertama. Dan ini pulalah jalan sekaligus metode untuk mewujudkan Islam di tempat dan zaman kapanpun. Perhatikan tulisannya di bawah ini:
Inilah wujud (nature) agama ini, sebagaimana disarikan dari metode Quran Makki. Kita harus mengetahui wujudnya ini. Kita jangan mencoba merobahnya hanya untuk memenuhi keinginan sesaat yang kalah di depan bentuk-bentuk teori-teori manusia. Dengan bentuknya yang seperti ini, ia telah membentuk ummat Islam yang pertama. Dan dengan cara yang begitu pulalah ia akan membentuk ummat Islam setiap kali ia ingin untuk mengulang mengeluarkan ummat Islam sekali lagi ke alam nyata, sebagaimana Allah telah mengeluarkannya pertama kali.

Kamis, 09 Februari 2012

Interogasi Tahanan Ala Barbar Amerika


Inilah beberapa metode penyiksaan yang telah diresmikan oleh pemerintah barbar amerika laknatullah'alaih untuk membuka mulut para tahanan yang tengah dan akan diinterogasi oleh mereka. Metode ini diajarkan oleh SERE (US Military Training Program – Survival, Evasion, Resistance, Escape) kepada setiap personil US Army untuk menghadapi para terpidana, kriminal dan juga pada para tahanan mujahidin-mujahidin diseluruh penjara resmi maupun rahasia mereka.



Inilah metode penyiksaan tersebut:


1. Isolation
Caranya tersangka ditempatkan di ruang tersendiri tanpa bisa melakukan kontak apapun dg orang lain. Dalam periode tertentu tersangka akan mengalami kegelisahan berat karena keinginan yg sangat kuat untuk berinteraksi dengan orang lain.

2. Sleep Deprivation
Dengan mencegah tersangka untuk tidur selama beberapa hari. Setelah beberapa hari tersangka akhirnya diperbolehkan tidur tapi segera dibangunkan lagi dan langsung di interograsi. Mantan Perdana Menteri Israel Menachem Begin pernah mengalami ini pada saat dia ditahan KGB. Dia bilang,” Orang2 terlihat seperti diselimuti kabut dan rasanya aku sudah mati. Kakiku gemetaran hebat dan SATU…hanya SATU keinginanku: TIDUR. Kelaparan dan kehausan gk ada apa-apanya dibandingkan ini.'
Selain menimbulkan halusinasi, sleep deprivation yg lebih dari 24 jam akan menimbulkan kegilaan sementara.

3. Sensory Deprivation
Metodenya dengan menempatkan tersangka di semacam tabung yg mengisolasi total semua rangsangan dari luar. Tabung tersebut diberi sebuah lubang kecil untuk tempat bernafas penghuninya. Pada percobaan yg dilakukan terhadap 17 org subyek, hanya 6 orang yg bertahan sampai 36 jam. Yang lainnya mengalami kegelisahan berat dan kepanikan.

4. Stress Position
Tersangka dipaksa berdiri selama berjam-jam tanpa diberi pegangan apapun. Variasi lainnya selain berdiri tahanan juga disuruh mengangkat lengannya. Metode ini pd penerapannya di lapangan berkembang menjadi semakin inovatif seperti mengikat tangan kebelakang lalu diikatkan lagi ke pergelangan kaki pada posisi “ditarik”.

5. Sensory Bombardment
Caranya dengan menyuruh tahanan berdiri menghadap tembok. Mata ditutup dan tangan diikat erat lalu tahanan akan dibombardir dengan sinar lampu sangat terang dan suara-suara keras sehingga mengakibatkan kekacauan indra tubuh akibat rangsangan yg berlebih, gangguan tidur dan konsentrasi. Salah seorang sumber di tahanan menyebutkan ada seorang tahanan yg “keras kepala” mengalami penyiksaan ini selama 7 hari non-stop.

6. Forced Nudity
Metode ini banyak diterapkan tentara Amerika di Iraq saat menginterograsi tawanan perang. Prakteknya dengan menelanjangi tersangka di depan tahanan yg lain dan membiarkannya tetap bugil dalam jangka waktu yg lama. Akibatnya tersangka akan merasa malu luar biasa.

7. Sexual Humiliation
Hal ini disesuaikan dengan budaya dan kepercayaan yg dianut oleh si tersangka. Cara-caranya seperti tersangka dipaksa melakukan adegan sex dengan sesama jenis, disuruh memakai pakaian wanita (utk tersangka pria) lalu dipaksa menari striptease di depan personil wanita.

8. Cultural Humiliation
Seperti poin diatas cara ini jg disesuaikan dengan budaya setempat. Metode ini pada intinya memaksa tersangka melakukan sesuatu yg menurut pandangan tersangka merupakan sesuatu yg dilarang atau memalukan. Contohnya bagi muslim dipaksa makan babi. Selain itu bisa juga dengan penghinaan2 verbal sampai tersangka merasa sangat terhina dan mematahkan semangatnya.

9. Extreme Cold.
Cara ini dulunya berasal dari China yg diterapkan kepada tahanan politik atau para aktivis keagamaan. Umumnya tahanan secara rutin tubuhnya diguyur air dingin dan dibiarkan berada di dalam atau di luar ruangan yg jg bersuhu rendah. Ada juga yg dipaksa berdiri ditengah hujan salju cuma mengenakan pakaian seadanya.
Metode yg berlawanan adalah menggunakan panas yaitu dgn mengurung tahanan di semacam ruang sempit yg minim ventilasi dan bersuhu tinggi. Disebut juga “hot box”. Tersangka baru akan dikeluarkan setelah mau bekerjasama dengan interogatornya.

10. Phobias
Phobias digunakan untuk menimbulkan perasaan panik pada diri tersangka. Contohnya kalo si tersangka takut dengan laba-laba maka selnya akan diisi penuh dengan laba-laba sampai tersangka tersebut mengalami rasa takut dan panik yg luar biasa. Pada tahap tersebut barulah interogasi dilaksanakan.

11. Water Boarding
Metode ini belakangan dilarang digunakan dalam US Military. Tp tidak ada yg menjamin apakah aturan tersebut benar-benar dilaksanakan atau tidak. Waterboarding dilakukan dengan mengikat tubuh erat-erat tersangka pada sebuah papan atau meja dengan posisi kaki lebih tinggi drpd kepala, lalu matanya ditutup. Kemudian wajah tersangka disiram dengan air berulang-kali dg teknik tertentu. Secara psikolog tersangka akan merasa dirinya tenggelam dan timbul reaksi tersedak karena air yg diguyurkan ke wajahnya itu. Metode ini sangat efektif karena dalam percobaan yg dilakukan thd anggota CIA sendiri ternyata rata-rata mereka hanya bertahan selama 14 detik

Terbukti siapa yang barbar, kami atauamerika???

Surat Dari Mujahidin Aceh



Berikut isi dari surat yang ditulis oleh Abu Musa Ath-Thoyyar aka Ubaid, seorang ustadz dan sekaligus mujahidin yang berlatih di Aceh yang sekarang mendekam dipenjara thoghut Indonesia bersama ikhwan-ikhwan mujahid yang lainnya dengan dakwaan terorisme??? Isi surat ini sebagai klarifikasi terhadap stetmen-stetmen orang yang dengki dan membenci syariat Islam tegak dibumi ini dan membenci ibadah Jihad Fie Sabilillah. Berikut isi surat tersebut;

Alhamdulillah wahdahu wa sholatu wassalam ala rosulillah wa ala alihi wa man walahu, wa ba'du...


Kami telah mendengar berbagai komentar dan reaksi dari umat Islam umumnya dan dari ikhwan-ikhwan aktivis khususnya, tentang kami yang melakukan pelatihan militer di Aceh sampai akhirnya kami tertangkap.

Kami sangat menyayangkan adanya banyak komentar, analisa dan kesimpulan yang hanya berdasarkan isu, sangkaan atau informasi media yang biasa merekayasa fakta. Terkadang hal ini semakin memperberat kesedihan yang tengah kami rasakan.

Yang meringankan kesedihan ini, kami tetap berusaha berbaik sangka bahwa kebanyakan komentator dan analis tersebut melakukan itu semua karena besarnya semangat mereka untuk membela umat islam. Kami akui bahwa kami tidak bersih dari kesalahan. Namun berbagai upaya yang tengah kami kerahkan dan berbagai kondisi yang kami hadapi selama persiapan sampai tertangkap, sampai sekarang. Semoga menjadi udzur atau penghapus kesalahan-kesalahan itu. Sementara kondisi ini tidak memungkinkan untuk memberikan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

Maka saya tegaskan disini, apa yang pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam



"Jika kalian dapatkan saya berada di barisan musuh umat Islam yang selama ini menyengsarakan kalian, maka bunuhlah saya, meski Al Qur'an di atas kepala saya."

Terakhir, entah sampai atau tidak kami ingin sampaikan salam kepada Syeikh Usamah, Syaikh Aiman dll bahwa inilah anak-anakmu yang belum pernah mengenalmu, dengan segala kemampuan berusaha membangun jama'ah yang akan menjadi prajurit yang patuh di bawah pimpinanmu. Tapi akhirnya Allah sajalah yang menetapkan hasilnya. Dan tidak ada yang bisa kami lakukan selain ridho dengan ketetapan-Nya.

Ya Allah teguhkan kami di jalan-Mu sampai khusnul khotimah.

Wassalamualaykum..



Abu Musa Ath-Thoyyar aka Ubaid,


Allaahumma Adz-Dzib Amirika Wa-Hulafaa-ihim

(Ya Allah siksalah Amerika dan antek-anteknya)

Allahumman shuril Mujaahidiina Fii Afghanistan Wa Fii Filisthiina Wa Fii Iraaqi Wa Fii Fathaanii Wa Fii indunisi Wa Fii Kulli Makaanin Wa-zamaanin

(Ya Allah tolonglah para Mujaahidiin di Afghanistan , di Palestina, dan di Iraq dan Pattani dan di Indonesia dan di seluruh tempat dan waktu)

Allaahumma Munzilal Kitaabi Wa-Mujriyas-Sahaabi Wa-Haazimal Ahzaabi Ihzimhum Wan-shurnaa Alayhim

(Yaa Allah yang menurunkan Al-Kitab dan memperjalankan awan, dan Penghancur pasukan sekutu, hancurkanlah mereka, dan tolonglah kami atas mereka)

Amin, Amin, Ya Mujjibassaailin.

Selasa, 07 Februari 2012

Tuhan Baru Itu Bernama "Maslahat Dakwah


 Sebuah Taujih Dari Asy Syahid Sayyid Quthb


Ikhwahfillah rahimakumullah, hidup ini adalah sebuah jalan dimana kita akan dihadapkan oleh banyaknya tantangan dan godaan terhadap tauhid kita. Manusia diciptakan dengan penuh kelalaian lagi kehinaan. Ia bersimpul dalam diri kita. Mengakar kuat dalam ulu hati. Manusia-manusia Rabbani yang menjadikan tauhid sebagai esensi dalam dirinya kemudian harus sadar bahwa hanya kepadaNyalah kelemahan itu akan tertutupi jika kita senantiasa berpegang kepada tali buhul yang tak akan putus, yakni tali tauhid untuk hanya mengamba di jalan Allahuta'la.
Ikhwahfilah rahimakumullah, Asy Syahid Sayyid Quthb pernah menggariskan, bahwa dakwah pasti akan mengalami benturan, dimana kekuatan Al Haqq akan berkonfrontasi dengan Al Bathil. Di sini, Islam tidak bisa mengambil jalan damai, meletakkan Kebenaran untuk berkompromi dg kebathilan. Memadukan thesa dan anthithesa antara Islam dengan kejahiliyahan. Simpul-simpul Rabbani itu justru akan menguat seiring Islam lebih memilih untuk tunduk di jalan Kemuliaan, dan mengacuhkan nikmat hina-dina itu.

Fitnah kemenangan akhir zaman inilah yang mesti betul-betul diwaspadai oleh aktifis dakwah. Ia sesuai dengan bagaimana Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya di kalangan kamu nanti akan tertanam kemauan besar kedudukan (politik) dalam kerajaan. Sesungguhnya yang demikian itu akan menjadikan kamu menyesal dan susah pada Hari Kiamat; Sebaik-baik ibu adalah yang mau menyusui anak (artinya sebaik-baik pemimpin adalah yang memperhatikan kepentingan rakyat), dan seburuk-buruk ibu adalah ibu yang tidak mau menyusui anaknya (artinya seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang tidak memerhatikan kepentingan rakyat). (Riwayat Bukhari dan Nasa’i).

Ikhwah fillah, tulisan ini lahir dari sebuah perenungan Asy Syahid, tentang cobaan dakwah yang akan senantiasa melingkupi tiap diri kita. Sebuah diri yang menasbihkan semata-mata mengabdikan hidup kepada Allahuta'ala meski kemenangan seakan-akan sudah di depan mata.

Dalam surat wasiat [1] untuk adiknya, Aminah Quthub, Asy Syahid Sayyid Quthb Rahimakumullah menulis :

“Sulit bagi saya  membayangkan bagaimana mungkin kita akan sampai pada tujuan mulia dengan menggunakan wasilah (alat bantu/perantaraan) yang kotor. Tujuan yang mulia hanya akan hidup di dalam hati nurani yang mulia pula. Karenanya, bagaimana mungkin nurani yang mulia itu mau menggunakan wasilah busuk lagi kotor. Atau –yang lebih ironis lagi- bahkan mendambakan hidayah dan pertolongan Allah melalui wasilah busuk itu ?
Ketika kita telah tersesat dalam sebuah penyimpangan, sebagai dampak dari lumpur kesalahan yang kita lalui, maka tidak terelakkan lagi kita pasti akan berada dalam penyelewengan yang sangat kotor. Karena jalan yang penuh dengan lumpur pasti akan meninggalkan bekas kotor pada kaki orang-orang yang melewatinya. Demikian pula halnya dengan wasilah yang kotor, pastilah akan menimbulkan noda hitam yang akan terus menempel dan meninggalkan bekas kekotoran pada jiwa kita serta pada tujuan yang akan kita capai”.
Dalam Tafsir Fi  Dzilalil Qur’an, menjelaskan surah Al Hajj ayat 52, yang artinya

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Hajj 52)
Sayyid Quthub Rahimakumullah mengatakan :

“Panasnya pergolakan dan kecamuk pertarungan telah mendorong para aktifis dakwah sepeninggal Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam untuk terus merupaya  menegakkan Risalah ini. Namun di sisi lain tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengambil jalan pintas dengan menggunakan berbagai wasilah, strategi  dan metode yang melenceng dari kaidah dan manhaj dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Hal itu tidak lain disebabkan oleh ketergesa-gesaan dan ketidak sabaran untuk segera memperoleh kemenangan dan keberhasilan dakwah mereka.

Jalan pintas itu adalah hasil ijtihad mereka atas apa yang mereka sebut dengan “mashlahat dakwah”. Padahal yang dimaksud dengan mashlahat dakwah yang sebenarnya adalah sikap istiqomah dari para pengemban amanah dakwah agar senantiasa berada di atas manhaj dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam tanpa sedikit pun tergoda untuk berpaling darinya walau selangkah pun. Adapun hasil akhir dari dakwah adalah perkara ghaib yang tidak ada satupun yang tahu kecuali Allah Azza Wa Jalla wa Jalla.

Dengan demikian tidak selayaknya bagi para aktifis dakwah menjadikan hasil akhir sebagai tolok ukur dan tujuan utama dakwah mereka. Kewajiban mereka hanyalah menegakkan dakwah di atas manhaj yang lurus dan bersih dari berbagai penyimpangan, seraya  bertawakkal dan menyerahkan seluruh hasil usaha yang telah dilakukan dengan penuh istiqomah kepada Allah Azza Wa Jalla wa Jalla. Jika ini telah dilakukan, niscaya kebaikan lah yang akan diperoleh, apapun hasil yang dicapai.
Ayat di atas mengingatkanmereka bahwa syaitan tidak akan pernah berhenti menghembuskan tipu daya dan godaan-godaannya terhadap para aktifis dakwah. Allah telah melindungi para Rasul dan nabi yang ma’shum sehingga mereka mampu membebaskan diri dari setiap tipu daya syaitan dan tetap istiqomah pada manhaj dakwah yang lurus. Namun tidak demikian halnya dengan para aktifis dakwah setelah mereka. Karena itu sudah seyogyanya bagi setiap aktifis dakwah agar  berhati-hati dan waspada terhadap godaan syaitan ini dan tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada syaitan untuk menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan disebabkan oleh besarnya keinginan untuk segera mencapai keberhasilan dakwah dan memberikan “mashlahat” bagi umat Islam.
Tidak ada jalan lain, kalimat “mashlahat dakwah” harus dibuang jauh-jauh dari kamus para aktifis dakwah, karena ia telah memalingkan mereka dari tujuan dakwah yang mulia dan menjadi pintu masuk syaitan untuk menyesatkan mereka setelah gagal menjerumuskan mereka melalui pintu mashlahat pribadi.
Lebih lanjut Sayyid Quthb menambahkan :

“Mashlahat dakwah” telah menjelma menjadi berhala, Ilaah yang diibadahi oleh para aktifis dakwah dan menjadikan mereka melupakan manhaj dakwah Rasul yang murni dan orisinal. Karena itu, wajib bagi setiap aktifis dakwah untuk tetap istiqomah di atas manhaj Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam serta dengan sekuat tenaga menjaga agar tidak tergoda oleh segala bujuk rayu yang pada akhirnya justru akan menghancurkan bangunan dakwah yang telah mereka bina.
Ketahuilah bahwa satu-satunya bahaya  yang harus terus  diwaspadai oleh para aktifis dakwah adalah penyimpangan dari manhaj dakwah Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam dengan alasan apapun, sekecil apapun penyimpangan itu.

Karena sesungguhnya Allah lah yang  lebih Mengetahui tentang mashlahat dibandingkan mereka. Sedangkan mereka tidak dibebani sama sekali untuk mewujudkan mashlahat itu. Mereka hanya diwajibkan atas satu hal saja: “agar tidak menyimpang sedikit pun dari Manhaj Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam dan tidak menyerah kalah lalu meninggalkan jalan dakwah yang penuh berkah ini “ . [2]


Inilah esensi kemenangan sejati. Kemenangan yang hanya bersandar kepada manhaj kenabian. Kemenangan yang terbebas dari pencampuran antara kepentingan dunia dan akhirat meski hidup penuh onak dan duri. Inilah ciri generasi rabbani sejati ya ikhwah. Seperti bagaimana Asy Syahid menjelaskannya di bab-bab terakhir dari kitab monumentalnya, Ma'alim fiththariqh.

Sesungguhnya nilai yang paling berharga di dalam neraca Allah Ta’ala  adalah nilai aqidah. Sesuatu yang paling laris dalam perniagaan Allah adalah iman. Kemenangan yang paling bernilai di sisi Allah ialah kemenangan ruh atas kebendaan, kemenangan aqidah menghadapi sakit dan sengsara, kemenangan iman menempuh badai fitnah dan ujian.
Di dalam kisah pembunuhan beramai-ramai di dalam parit api (Ashabul Uhdud), yang kita perbincangkan ini, nyata sekali kemenangan orang-orang beriman itu mengalahkan perasaan takut dan sakit. Kemenangan mengatasi godaan-godaan duniawi, kemenangan menghadapi fitnah, kemenangan kehormatan dan harga diri umat manusia di sepanjang zaman. Inilah kemenangan sejati !”. [3]

[1]  Wasiat ini pertama kali dirilis oleh Majalah Al Fikr Tunisia edisi VI Maret 1959 dengan judul “Cahaya dari Kejauhan”.

[2]  Tafsir Fi Dzilalil Qur’an Juz 4 halaman 2435, Al Qoul An Nafiis Fit Tahdzir Min Khodi’ati Iblis (Mashlahah Da’wah) karangan Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi halaman 60 - 61

NB: Wasiat-wasiat dari tulisan Asy Syahid Sayyid Quthb dicopy dari penggalan Tulisan Ustadz Fuad Hazmy dengan judul "Tuhan Baru Itu Bernama "Maslahat Dakwah".



Berhala Modern Itu Bernama Nasionalisme



Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa suatu masyarakat sengaja menjadikan "berhala" tertentu sebagai perekat hubungan antara satu individu dengan individu lainnya. Sedemikian rupa "berhala" itu diagungkan sehingga para anggota masyarakat yang "menyembahnya" merasakan tumbuhnya semacam "kasih-sayang" di antara mereka satu sama lain. Suatu bentuk kasih-sayang yang bersifat artifisial dan temduaporer. Ia bukan kasih-sayang yang sejati apalagi abadi. Gambaran mengenai berhala pencipta kasih-sayang palsu ini dijelaskan berkenaan dengan kisah Nabiyullah Ibrahim ’alaihis-salam.
وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْفِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُبَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
Dan berkata Ibrahim ’alaihis-salam, "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun." (QS. Al-Ankabut [29] : 25)
Berhala-berhala di zaman dahulu adalah berupa patung-patung yang disembah dan dijadikan sebab bersatunya mereka yang sama2 menyembah berhala patung itu padahal berhala itu merupakan produk bikinan manusia. Di zaman modern sekarang "berhala" bisa berupa aneka isme/ideologi/falsafah/jalan hidup/way of life/sistem hidup/pandangan hidup produk bikinan manusia. Manusia di zaman sekarang juga "menyembah" berhala-berhala modern tersebut dan mereka menjadikannya sebagai "pemersatu" di antara aneka individu dan kelompok di dalam masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan kasih-sayang yang berlaku sebatas kehidupan mereka di dunia saja. Berhala modern itu bisa memiliki nama yang beraneka-ragam. Tapi apapun namanya, satu hal yang pasti bahwa ia semua merupakan produk fikiran terbatas manusia. Ia bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme atau apapun selain itu.
Semenjak runtuhnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara ummat Islam 85 tahun yang lalu bangsa-bangsa Muslim di segenap penjuru dunia mulai menjalani kehidupan sosialberlandaskan sebuah faham yang sesungguhnya asing bagi mereka. Faham itu bernama Nasionalisme. KetikaKhilafah Islamiyyah masih tegak dan menaungi kehidupan sosial ummat, mereka menghayati bahwa hanya aqidah Islam Laa ilaha illa Allah sajalah yang mempersatukan mereka satu sama lain. Hanya aqidah inilah yang menyebabkan meleburnya sahabat Abu Bakar yang Arab dengan Salman yang berasal dari Persia dengan Bilal yang orang Ethiopia dengan Shuhaib yang berasal dari bangsa Romawi. Mereka menjalin al-ukhuwwah wal mahabbah(persaudaraan dan kasih sayang) yang menembus batas-batas suku, bangsa, warna kulit, asal tanah-air dan bahasa. Dan yang lebih penting lagi bahwa ikatan persatuan dan kesatuan yang mereka jalin menembus batas dimensi waktu sehingga tidak hanya berlaku selagi mereka masih di dunia semata, melainkan jauh sampai kehidupan di akhirat kelak.Mengapa? Karena ikatan mereka berlandaskan perlombaan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Hidup lagi Maha Abadi.
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43] : 67)
Orang-orang beriman tidak ingin menjalin pertemanan yang sebatas akrab di dunia namun di akhirat kemudian menjadi musuh satu sama lain. Oleh karenanya, mereka tidak akan pernah mau mengorbankan aqidahnya yang mereka yakini akan menimbulkan kasih-sayang hakiki dan abadi. Sesaatpun mereka tidak akan mau menggadaikan aqidahnya dengan faham atau ideologi selainnya. Sebab aqidah Islam merupakan pemersatu yang datang dan dijamin oleh Penciptanya pasti akan mewujudkan kehidupan berjamaah sejati dan tidak bakal mengantarkan kepada perpecahan dan bercerai-berainya jamaah tersebut.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dalam jamaah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali-Imran [3] : 103)
Sewaktu ummat Islam hidup di bawah naungan Syariat Allah dalam tatanan Khilafah Islamiyyah mereka tidak mengenal bentuk ikatan kehidupan sosial selain Al-Islam. Mereka tidak pernah membangga-banggakan perbedaan suku dan bangsa satu sama lain.
Betapapun realitas suku dan bangsa memang tetap wujud, tetapi ia tidak pernah mengalahkan kuatnya ikatan aqidah di dalam masyarakat. Sedangkan setelah masing-masing negeri kaum muslimin mengikuti jejak langkah Republik Turki Modern Sekuler, maka mulailah mereka mengekor kepada dunia barat yang hidup dengan membanggakan Nasionalisme masing-masing bangsa. Padahal bangsa-bangsa Barat tidak pernah benar-benar berhasil membangun soliditas sosial melalui man-made ideologytersebut. Akhirnya bangsa-bangsa Muslim mulai sibuk mencari-cari identitas Nasionalisme-nya masing-masing. Mulailah orang Indonesia lebih bangga dengan ke-Indonesiaannya daripada ke-Islamannya. Bangsa Mesir bangga dengan ke-Mesirannya. Bangsa Saudi bangga dengan ke-Saudiannya. Bangsa Turki bangga dengan ke-Turkiannya. Lalu perlahan tapi pasti kebanggaan akan Islam sebagai perekat hakiki dan abadi kian tahun kian meluntur.
Sehingga di dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an Asy-Syahid Sayyid Qutb rahimahullah menulis komentar mengenai surah Al-Ankabut ayat 25 di atas sebagai berikut:
Ia (Ibrahim) ’alaihis-salam berkata kepada mereka (kaumnya), “Kalian menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan selain Allah, yang kalian lakukan bukan karena kalian mempercayai dan meyakini berhaknya berhala-berhala itu untuk disembah. Namun, itu kalian lakukan karena basa-basi kalian satu sama lain, dan karena keinginan untuk menjaga hubungan baik kalian satu sama lain, untuk menyembah berhala ini. Sehingga, seorang teman tak ingin meninggalkan sesembahan temannya (ketika kebenaran tampak baginya) semata karena untuk menjaga hubungan baik di antara mereka, dengan mengorbankan kebenaran dan akidah!”
Hal ini terjadi di tengah masyarakat yang tak menjadikan akidah dengan serius. Sehingga, mereka saling berusaha menyenangkan temannya dengan mengorbankan akidahnya, dan melihat masalah akidah itu sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan jika ia harus kehilangan teman! Ini adalah keseriusan yang benar-benar serius. Keseriusan yang tak menerima peremehan, santai, atau basa-basi.
Kemudian Ibrahim’alaihis-salam menyingkapkan kepada mereka lembaran mereka di akhirat. Hubungan sesama teman yang mereka amat takut jika terganggu karena akidah, dan yang membuat mereka terpaksa menyembah berhala karena untuk menjaga hubungan itu, ternyata di akhirat menjadi permusuhan, saling kecam, dan perpecahan.
”...Kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)....”
Hari ketika para pengikut mengingkari orang-orang yang diikutinya, orang-orang yang dibeking mengkafirkan orang-orang yang membekingnya, setiap kelompok menuduh temannya sebagai pihak yang menyesatkannya, dan setiap orang yang sesat melaknat teman yang menyesatkannya!
Kemudian kekafiran dan saling melaknat itu tak bermanfaat sama sekali, serta tak dapat menghalangi azab bagi siapapun.
”...Dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.”
Mereka (kaumnya Nabi Ibrahim ’alaihis-salam) pernah menggunakan api untuk membakar Ibrahim ’alaihis-salam, tapi Allah kemudian membela dan menyelamatkan Ibrahim ’alaihis-salam dari api itu. Sementara mereka tak ada yang dapat menolong mereka dan tak ada keselamatan bagi mereka!
Saudaraku, marilah kita tinggalkan segala bentuk “berhala modern” yang sadar ataupun tidak selama ini kita “sembah”. Kita jadikan faham selain Islam sebagai sebuah perekat antara satu sama lain, padahal persatuan dan kasih-sayang yang dihasilkannya hanya bersifat fatamorgana. Marilah hanya AL-ISLAM yang kita jadikan "faktor pemersatu" yang pasti terjamin akan mempersatukan kita di dunia dan di akhirat. Al-Islam bukan produk manusia melainkan produk Allah Yang Maha Tahu dan Maha Sempurna pengetahuannya.
Sedemikian hebatnya pengaruh Nasionalisme sehingga sebagian orang yang mengaku berjuang untuk kepentingan ummat-pun takluk di bawah ideologi buatan manusia yang satu ini. Betapa ironisnya perjuangan para politisi Islam tatkala mereka rela untuk menunjukkan inkonsistensi-nya di hadapan seluruh ummat demi meraih penerimaan dari fihak lain yang jelas-jelas mengusung Nasionalisme. Seolah kelompok yang mengusung ideologi Islam harus siap mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan kelompok yang mengusung Nasionalisme. Seolah memelihara persatuan dan soliditas berlandaskan Nasionalisme jauh lebih penting dan utama daripada mewujudkan al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) berlandaskan aqidah Islam.
Sedemikian dalamnya faham Nasionalisme telah merasuk ke dalam hati sebagian orang yang mengaku memperjuangkan aspirasi politik Islam sehingga rela mengatakan bahwa”Isyu penegakkan Syariat Islam merupakan isyu yang sudah usang dan tidak relevan.” Tidakkah para politisi ini menyadari bahwa ucapan mereka seperti ini bisa menyebabkan rontoknya eksistensi Syahadatain di dalam dirinya? Dengan kata lain ucapannya telah mengundang virus ke-murtad-an kepada si pengucapnya. Wa na’udzubillahi min dzaalika.
Sebagian orang berdalih bahwa jika kita mengusung syiar ”Penegakkan Syariat Islam” lalu bagaimana dengan nasib orang-orang di luar Islam? Saudaraku, disinilah tugas kita orang-orang beriman untuk mempromosikan Islam sebagai "faktor pemersatu" yg bersifat Rahmatan lil 'aalamiin. Tidakkah terasa aneh bila "mereka" bisa dan boleh dibiarkan mendikte aneka isme/ideologi/falsafah/jalan hidup/way of life/sistem hidup/pandangan hidup produk bikinan manusia kepada kita umat Islam, sedangkan kita umat Islam tidak mampu —bahkan kadang tidak mau— mempromosikan (baca: berda'wah) menyebarluaskan ajaran Allah kepada "mereka"? Wallahua'lam.-
وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِأَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ
Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu."(QS. Ali-Imran [3] : 73)


Wallahua'lam bishshawab.